KUALA KAPUAS – Siapa sangka, aktivitas biasa warga membuka lahan pertanian di Kelurahan Pulau Kupang, Kecamatan Bataguh, justru menguak jejak peradaban kuno. Dari ketidaksengajaan itu, berbagai artefak yang diduga berasal dari Kerajaan Kota Bataguh Negeri Tanjung Pematang Sawang—atau dikenal juga sebagai Kerajaan Nyai Undang—mulai ditemukan.
Lurah Pulau Kupang, Erliansyah Narpan Apoi, mengungkapkan, awal penemuan terjadi ketika warga memanfaatkan lahan untuk bertani sekaligus mendirikan tempat tinggal. “Tanpa sengaja, mereka menemukan benda-benda yang diduga peninggalan masa lampau,” ujarnya.
Penemuan itu kemudian menarik perhatian akademisi. Pada 1996, tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Universitas Palangka Raya, dan Universitas Lambung Mangkurat melakukan kajian ilmiah, termasuk uji kadar karbon terhadap artefak dan kawasan temuan.
Hasilnya cukup mengejutkan. Berdasarkan analisis karbon, peninggalan tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-4 Masehi. Artinya, situs ini diyakini lebih tua dibanding sejumlah kerajaan Nusantara di Kalimantan.
“Ini menjadi sesuatu yang unik dan membanggakan. Kita memiliki peninggalan purbakala yang harus dijaga dan dilestarikan,” tegas Erliansyah.
Artefak yang ditemukan pun beragam. Mulai dari dayung atau bese, hiasan aksesori berupa manik-manik, hingga alat permainan tradisional seperti balogo, bagasing, dan tongkat benteng. Benda-benda itu diyakini berkaitan dengan kehidupan masyarakat pada masa pemerintahan ratu legendaris Nyai Undang, yang disebut sebagai anak dari Raja Sempung dan Nyai Nunyang.
Saat ini, seluruh temuan masyarakat dikumpulkan dan disimpan di kantor kelurahan. Pemerintah setempat menyediakan ruang khusus agar artefak tersebut bisa dilihat publik.
“Ini kami jadikan sebagai sarana edukasi dan wisata, baik untuk masyarakat lokal maupun internasional,” tambahnya.
Secara geografis, kawasan situs berada di Handil Alai Darat dengan luas sekitar 3 kilometer persegi. Lokasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah yang mengangkat cikal bakal peradaban di Kalimantan Tengah.
Ke depan, pemerintah kelurahan berharap ada perhatian lebih dari berbagai pihak untuk pengembangan dan pelestarian situs tersebut. Selain menjaga warisan leluhur, keberadaan situs ini juga diyakini mampu mendongkrak promosi daerah, khususnya Pulau Kupang dan Kecamatan Bataguh, di kancah yang lebih luas. (rd)















