PULANG PISAU – Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah di Masjid Agung Ar Raudhah, Jalan Abel Gawei Rey II, Kecamatan Kahayan Hilir, Jumat (6/3/2026) malam berlangsung khidmat. Bupati Pulang Pisau H Ahmad Rifa’i bersama Wakil Bupati H Ahmad Jayadikarta hadir langsung dalam kegiatan yang diikuti jamaah dan tokoh masyarakat tersebut.
Dalam sambutannya, Bupati Ahmad Rifa’i mengajak masyarakat menjadikan peringatan turunnya Al-Qur’an sebagai momentum memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Salah satu caranya dengan memperbanyak membaca serta mengkaji kandungan Al-Qur’an.
Menurutnya, Nuzulul Qur’an merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni turunnya wahyu Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk hidup bagi umat manusia.
“Al-Qur’an adalah sumber utama ajaran Islam sekaligus sumber ilmu pengetahuan yang tidak ada habisnya untuk digali dan dipelajari,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an mengajarkan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah), hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas), hingga hubungan dengan alam semesta.
Nilai-nilai yang diajarkan dalam kitab suci tersebut, lanjutnya, mencakup toleransi, keadilan, kebaikan, kedamaian hingga kesejahteraan. Karena itu, Al-Qur’an harus dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Bupati juga mengingatkan agar umat Islam tidak sekadar memiliki Al-Qur’an, tetapi juga membaca, memahami dan mengamalkannya.
“Jangan sampai Al-Qur’an hanya kita jadikan pajangan berdebu di lemari. Jadikan Al-Qur’an sebagai Al-Huda, petunjuk dalam menjalani kehidupan agar selamat dunia dan akhirat,” tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh jamaah menjadikan malam Nuzulul Qur’an sebagai momentum muhasabah diri, untuk menilai sejauh mana kedekatan umat dengan Al-Qur’an.
Di akhir sambutannya, Ahmad Rifa’i menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Pulang Pisau untuk terus mendukung kegiatan keagamaan sebagai bagian dari pembangunan daerah.
Menurutnya, pembangunan yang kuat tidak hanya dilihat dari sisi fisik dan infrastruktur, tetapi juga dari pembangunan mental dan spiritual masyarakat.
“Jika spiritual masyarakat kuat, maka pembangunan daerah juga akan berjalan lebih baik,” pungkasnya. (rd)
















