KUALA KAPUAS – Safari dakwah Ramadan menghadirkan suasana khidmat dan penuh makna di Kabupaten Kapuas. Kehadiran Dr. KH. M. Saad Ibrahim, Ketua Bidang Tabligh, Dakwah Komunitas, Kepesantrenan dan Pembinaan Haji-Umrah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menjadi momentum penting bagi penguatan ruh spiritual dan gerakan dakwah pencerahan di daerah.
Didampingi Ketua PDM Kapuas H. Suwarno Muriyat bersama jajaran pengurus, Saad Ibrahim memulai rangkaian kegiatan di Masjid Jami Mambulau, Kapuas Hilir, Jumat (27/2) sore. Suasana hangat terasa saat beliau didaulat memimpin salat magrib, isya, dan tarawih.
Usai berbuka puasa dan salat magrib, tausiyah pun mengalir. Dengan bahasa yang jernih dan reflektif, ia mengingatkan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
“Puasa bukan sekadar ritual fisik, tetapi proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) yang melahirkan ketakwaan sosial. Ramadan adalah madrasah pembentuk karakter—melatih kejujuran, disiplin, empati, serta kepedulian terhadap sesama,” tegas Saad Ibrahim di hadapan jamaah.
Dengan penuh ketawaduan, sang ulama intelektual menutup tauziyahnya dengan pesan reflektif. “Janganlah simpulkan sekarang tentang seseorang. Hidayah Allah berlangsung terus selama manusia itu masih hidup. Bisa jadi seseorang berakhir dengan husnul khatimah, atau sebaliknya,” tandasnya.
Ketua PDM Kapuas Dr H Suwarno Muriyat menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kunjungan yang dinilai membawa energi baru bagi gerakan dakwah Muhammadiyah di Kapuas. Menurutnya, kehadiran pimpinan pusat menjadi penguat sinergi antara pusat dan daerah dalam membina umat.
Dalam kesempatan itu, Suwarno yang juga menjabat Kepala Dinas Pendidikan Kapuas menyerahkan wakaf 10 mushaf Al-Qur’an dari pelanggan Gramedia kepada anak-anak setempat. Simbol sederhana namun sarat makna—komitmen membangun generasi Qur’ani dan memperkuat literasi Al-Qur’an sejak dini.
Rangkaian dakwah berlanjut pada Sabtu (28/2) pagi di Masjid Al Ihsan Kuala Kapuas. Usai salat subuh berjamaah, Saad Ibrahim menyampaikan tauziyah selama hampir satu jam. Tema yang diangkat menyentuh inti kemanusiaan: fitrah.
Ia menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan potensi tauhid, kecenderungan kepada kebenaran, serta amanah sebagai khalifah di muka bumi. Fitrah itu, katanya, harus dirawat melalui iman, ilmu, dan amal saleh.
“Ramadan adalah momentum strategis untuk mengembalikan orientasi hidup pada nilai-nilai ilahiyah dan kemaslahatan umat. Ketika fitrah terjaga, lahirlah pribadi berintegritas, berakhlak, dan bertanggung jawab secara sosial,” kata Suwarno.
Siang harinya, Saad Ibrahim kembali bertolak ke Jakarta melalui Bandara Tjilik Riwut. Sehari bersama di Kapuas meninggalkan kesan mendalam bagi jamaah dan pengurus.
Ramadan kali ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum transformasi diri—menguatkan fitrah, memperdalam makna ibadah, dan meneguhkan langkah dakwah pencerahan Muhammadiyah di Bumi Tingang Menteng Panunjung Tarung. (rd)
















